Sabtu, 22 Maret 2014

Berpikir dan Penalaran

Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam diri seseorang yang berupa pengertian-pengertian. “Berpikir” mencakup banyak aktivitas mental. Kita berpikir saat memutuskan barang apa yang akan kita beli di toko. Kita berpikir saat melamun sambil menunggu kuliah pengantar psikologi dimulai. Kita berpikir saat mencoba memecahkan ujian yang diberikan di kelas. Kita berpikir saat menulis artikel, menulis makalah, menulis surat, membaca buku, membaca koran, merencanakan liburan, atau mengkhawatirkan suatu persahabatan yang terganggu.
Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kerja otak, pikiran manusia lebih dari sekedar kerja organ tubuh yang disebut otak.  Kegiatan berpikir juga melibatkan seluruh pribadi manusia dan juga melibatkan perasaan dan kehendak manusia. Memikirkan sesuatu berarti mengarahkan diri pada obyek tertentu, menyadari secara aktif dan menghadirkannya dalam pikiran kemudian mempunyai wawasan tentang obyek tersebut.
Berpikir juga berarti berjerih-payah secara mental untuk memahami sesuatu yang dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Dalam berpikir juga termuat kegiatan meragukan dan memastikan, merancang, menghitung, mengukur, mengevaluasi, membandingkan, menggolongkan, memilah-milah atau membedakan, menghubungkan, menafsirkan, melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada, membuat analisis dan sintesis menalar atau menarik kesimpulan dari premis-premis yang ada, menimbang, dan memutuskan.


Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).


sumber:~ http://psikologi.or.id/psikologi-umum-pengantar/berpikir-thinking.htm
             ~http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran

Kamis, 20 Maret 2014

Mengapa Sistem Ekonomi Pancasila belum mampu menghilangkan GAP (inflasi, korupsi, distribusi yang tidak merata)




Indonesia merupakan Negara yag kaya akan sumber daya alam memiliki keanekaragamana budaya serta menjadi salah satu Negara kepulauan terbesar . Namun dengan melimpahnya sumber daya alam yang tersebar di seluruh pelosok negri . Indonesia belum mampu menyediakan kebutuhan dalam negrinya secara mandiri .Hal ini dibuktikan dari impor negara yang masih cukup besar terhadap kebutuhan pokok yang seharusnya bisa dipenuhi oleh Negara dan bahkan bisa dijadikan salah satu barang export untuk menambah devisa Negara. Lalu pertanyaannya mengapa Indonesia dengan sumber daya alam yang begitu melimpah belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negerinya?
Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan negerinya dikarenakan terbatasnya sumber daya manusia yang terampil dalam mengolah sumber daya yang ada. Hal ini dapat dilihat dari PT Freeport yang 50% lebih keuntungannya diambil oleh Negara asing. Lalu bagaimanakah kondisi perekonomian di Indonesia sendiri dan system ekonomi apakah yang dipakai Indonesia.
Indoneisa menganut system ekonomi pancasila. Apakah system ekonomi pancasila itu?Sistem ekonomi pancasila adalah  sistem ekonomi yang digali dan dibangun dari nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat Indonesia. Beberapa prinsip dasar yang ada dalam SEP tersebut antara lain berkaitan dengan prinsip kemanusiaan, nasionalisme ekonomi, demokrasi ekonomi yang diwujudkan dalam ekonomi kerakyatan, dan keadilan. Dengan adanya beberapa prisip yang berkaitan dengan prinsip dasar ekonomi pancasila sebagaimana disebutkan dalam pengertian ekonomi pancasila maka seharusnya ekonomi pancasila merupakan cara jitu dalam menghilangkan GAP (inflasi, korupsi, Distribusi yang tidak merata) . Namun pada kenyataannya system ekonomi yang dianut Indonesia belum mapu menghilangkan GAP.

GAP belum bisa dihilangkan di Indonesia karena masyarakat Indonesia tidak menjalankan prinsip  yang berkaitan dengan prinsip dasar ekonomi pancasila. Salah satu contoh dari GAP yaitu korupsi , alas an mengapa korupsi belum dapat dihilangkan di Indonesia yang menganut system ekonomi pancasila karena moral dan etika masyarakat Indonesia yang rendah yang hanya mengejar kekayaan .Karena di Indonesia orang kaya lebih dihormati dan disegani hal tersebut yang juga menimbulkan kesenjangan social dalam masyarakat .Lalu bagaimanakah dengan distribusi yang belum merata di Indonesia dan laju Inflasi .distribusi yang belum merata di Indonesia juga berkaitan dengan prinsip yang berkaitan dengan prinsip dasar system ekonomi pancasila yaitu yang menekankan kepada keadilan . 

 ,,,,,,,,,,,

Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh beberapa hal yang seperti contoh distribusi pendapatan yang belum merata di daerahnya karena penyediaaan lapangan kerja yang beragam hal tersebut menyebabkan distribusi pendapatan yang berbeda beda .
Penyakit ekonomi inflasi terjadi antara GAP yang berkaitan dengan produksi distribusi dan konsumsi yang disebabkan untuk para pelakunya. Hal-hal yang menyebabkan inflasi Pertama, uang yang beredar baik uang tunai maupun giro. Kedua, perbandingan antara fisik barang dan sector moneter yang tersedia. Ketiga, tingkat suku bunga bank juga dapat mempengaruhi laju inflasi. Suku bunga di Indonesia termasuk lebih tinggi dibandingkan Negara-negara lain di kawasan Asia. Keempat, tingkat inflasi ditentukan faktor fisik prasarana. Melonjaknya inflasipun karena dipicu oleh kebijakan pemerintah yang menarik subisidi sehingga harga BBM meningkat. Kenaikan BBM tersebut cukup memberatkan masyarakat lapisan bawah karena dapat menimbulkan multiplier effect, mendorong kenaikan harga jenis barang lainnya yang dalam proses produksi maupun distribusinya menggunakan BBM. Hal ini dapat menurunkan daya beli masyarakat.
……..
Lalu bagaimanakah solusi untuk menghilangkan GAP (korupsi, distribusi yang belum merata, inflasi ) ? dengan menggunakan sisitem ekonomi yang dipakai di Indonesia . Hal tersebut bukan tidak mungkin untuk menghilangkan GAP di Indonesia solusinya dengan menererpakan, menjalankan , dan mematuhi prinsip yang berkaitan dengan prinsip dasar dalam system ekonomi pancasila, hal tersebut juga dapat dilakukan dengan melatih tenaga terampil untuk dapat mengolah sumber daya alam yang melimpah di Indonesia senhingga menambah produksi dan menghasilkan produk yang berkualitas dan dapat diexpor ke luar. Dengan demikian Indonesia dapat memenuhi kebutuhan dalam negerinya tanpa perlu banyak mengimpor . Hal hal tersebut dapat menekan laju inflasi yang pesat sehingga produk Indonesia dapat  dijual murah di dalam negri dan menambah daya beli masyarakat dan distribusi menjadi lebih merata di setiap sector dan daerah sehingga  dapat mengurangi tindak korupsi di Indonesia.